Kidung Pujian

Blog Seksi Musik HKBP Serpong

Tinggal Sertaku

Kidung Jemaat No. 329 : Tinggal Sertaku
Lagu Buku Ende No. 744 : Rap Dohot Au
Judul Bahasa Inggris : Abide with Me

Dikatakan bahwa orang yang dapat menghadapi kematian secara realistis akan dapat mengarungi kehidupan ini dengan rasa berguna dan dengan penuh percaya diri. Hal tersebut menjadi kepercayaan juga bagi seorang pastor inggris yang kurang dikenal, Henry F Lyte, ketika beliau menulis teks untuk kidung ini pada tahun 1847, sebelum menjelang kepergiannya. Setelah itu, kidung ini menjadi kidung favorit bagi orang-orang dimana-mana dalam masa kesedihan dan tekanan yang dalam.

Henry F. Lyte lahir di Skotlandia pada 1 Juni 1793. Dia bersekolah di Trinity College, Dublin, Irlandia, dan menjadi anggota Gereja Inggris seumur hidupnya. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai orang yang lemah secara fisik akan tetapi kuat dalam iman dan spiritual. Kesehatannya secara terus menerus terancam oleh asma dan toberkulosis.

Walaupun dalam kelemahan fisik, beliau adalah orang yang bekerja tidak kenal lelah dan membangun reputasi sebagai seorang penyair, musikus dan pendeta. Dia selalu mengatakan ungkapan ini: “adalah lebih baik menjadi lelah dan letih daripada habis tak berguna ” (rust out). Dimanapun melayani, beliau sangat dicintai dan dikagumi oleh jemaatnya.

Selama 23 tahun hidupnya, dia melayani di daerah gereja pinggiran yang miskin, di antara komunitas nelayan di dataran rendah Brixham, Devonshire. Pada tahun-tahun inilah kesehatannya makin memburuk secara drastis dan terpaksa memikirkan tempat yang lebih hangat di Italia. Pada sermon terakhir 4 September 1847 dengan orang miskin pinggiran yang dilayaninya, dia tertatih-tatih untuk dapat berdiri di podium dan berbicara seperti orang yang sekarat. Pada perjalanan ke Roma, Italia, beliau akhirnya meninggal di Nice, Perancis dan dimakamkan disana pada 20 November 1847.

Lyte dipercayai menuliskan lirik dari kidung ini beserta musiknya tidak lama setelah hari minggu terakhirnya di Gereja Brixham. Kidung ini jarang dipakai di Inggris sampai ketika pertama kali diterbitkan dalam buku “Lyte’s Remain” pada 1850. Ketika diterbitkan di Amerika oleh Henry Ward pada tahun 1855, kidung ini ditandai dengan kalimat: “kidung ini ditujukan untuk dibaca, bukan untuk dinyanyikan”.
Ketika kemudian Willian Henry Monk membaca lirik kidung ini, karena tergugah beliau kemudian menggubah musiknya yakni Eventide, untuk lirik tersebut, yang konon diciptakan dalam setengah jam. Musik ini terinspirasi oleh keindahan dan kemegahan matahari terbenam walaupun beliau belum pernah mengalami kesedihan yang dalam. Itulah musik yang kita dengar hingga kini. William Monk adalah juga direktur musik dan organis pada King’s College, London.

Henry Lyte munulis kidung ini berdasarkan penampakan Yesus kepada dua murid dalam perjalanan menuju Emmaus dalam Injil Lukas . Dalam Luk 24:29 tertulis: Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

About these ads

April 9, 2008 - Posted by | Cerita Kidung

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: